……………….
Tuhan itu memang adil. Diberinya aku penyakit yang tidak tanggung-tanggung –sampai menyebabkan aku absen 3 hari dari kantor— di saat kerjaanku lagi membludak. Tapi justru dengan 3 hari absen dari kantor, entah mengapa inspirasiku untuk menulis muncul lagi, setelah sekian lama kering kerontang seperti rumput di musim kemarau. Aku tidak tahu ini pertanda baik atau buruk. Yang jelas, mudah2an tidak ada salah satu teman kantor yang membaca tulisan ini, paling tidak hari ini, saat dirinya sedang banting tulang meng-cover pekerjaanku yang seharusnya deadline dari kemarin… (Tuhan, ampunilah diriku..)
Inspirasi menulis ini entah bagaimana caranya muncul sejak pagi tadi. Inginnya sih.., aku bisa langsung buka laptop dan membiarkan jari2 ini menari di atasnya. Tapi aku baru ingat kalau laptop satu2nya sedang rusak. Ya sudah, mau tidak mau aku harus menulis di PC lama yang monitornya pernah sukses membuat mataku terkena minus silinder sekian ketika lagi hot-hotnya bikin skripsi. Sampai sekarang pun aku masih menganggap garis tepi atas bawah kiri kanan di Microsoft Word ini miring sekitar 15 derajat walaupun sebenernya 100% lurus total.
Kembali ke inspirasi tadi. Jadi, aku putuskan untuk sarapan dulu sejenak setelah aku tersadar dari tidur panjangku semalaman. (coba hitung, dari jam 8 malam sampai 8 pagi! Hibernasi beruang kutub saja kalah…) Obat antibiotik yang baru hilang efeknya mau tidak mau harus kutenggak lagi demi mempercepat kesembuhan.
Lalu aku pun mulai menulis. Sebaris, dua baris. Aaah…dulu kok rasanya nikmat sekali berjam2 di depan PC? Apa memang karena terpaksa oleh kondisi? Bahwa aku punya puluhan tugas yang harus kuselesaikan untuk tugas harian, bulanan, maupun tugas akhir? Lantas sekarang, saat tidak ada ‘aturan’ yang memaksaku untuk berkutat di depan PC, jari2ku jutsru semakin malas bekerja?
Kisah #1 – Siang itu di sebuah Coffee Shop
Aaaaah, betapa membosankannya mata kuliah siang ini. “Cabut yuk, cabuuut!” Ajakku pada beberapa orang teman. “Ayoooo….,” serentak yang lain pun mengikuti koor yang sama.
Sampailah kami di sebuah kafe ternama. Tak usahlah kusebut namanya. Bosan. Bosan dan semakin bodoh aku dibuat karena popularitasnya. Bayangkan, secangkir kopi hitam paling murah dihargai 25.000 IDR. Padahal petani kopinya saja perlu bersusah-payah menanam biji demi biji kopi demi sesuap nasi untuk dirinya dan keluarganya.
Kafe itu sejuk sekalipun matahari di luar amit-amit menyengatnya. Langsung kubuka laptopku dan mulai mengetik di sana. Mengetik apa saja. Kalau teman yang lain tanya, aku bilang sedang nulis draft makalah Ekopolin atau Perdam. Beres. Mereka pun akan memilih diam dan tidak menggangguku karena sudah cukup jengah juga dengan kata-kata ‘makalah’.
Aku memesan Caramel Frappuccino favorit, sambil terus menulis. Sementara orang-orang hilir-mudik di mal, bisa kulihat dengan jelas dari balik etalase kaca yang bening. Tentu saja aku tidak menulis sebuah draft makalah. Aku lebih tertarik menulis tentang ‘mereka’. Ya, mereka yang hilir-mudik di luar etalase kaca, sambil menenteng minimal satu tas belanja berlabel SOGO atau METRO Department Store (Oh…tolong dicatat, waktu itu belum jaman Debenhams ya…)
Betapa kaya-kayanya orang Indonesia, pikirku saat itu.
Ada ibu-ibu muda yang jalan melenggang bagai supermodel di atas catwalk, menjinjing clutch Hermes yang paling up-to-date model dan warnanya, yang beberapa langkah di belakangnya seorang supir pribadi setia membuntutinya, penuh dengan jinjingan tas-tas berlabel ternama di kanan kiri. Yang beberapa langkah di belakang supir necis itu terseok-seok seorang baby-sitter yang sedang membawa tas pakaian bayi sambil menggendong anak perempuan lucu tanpa dosa di bahunya.
Betapa ironisnya orang kaya di Indonesia, pikirku lagi.
Kuseruput Caramel Frappuccino-ku yang hampir mendekati titik darah penghabisan. Makin kutahan isapanku.
Takut keburu habis.
Sementara aku masih ingin menulis banyak hal tentang apa yang kulihat siang itu.

Kisah # 2 – Sore itu di sebuah restoran siap saji
M : “So, tell me what’s wrong with you..”
F : ”What? Are you kidding? Nothing!”
M : “Oke, oke, kalo gitu, cerita dong…tentang apa aja.”
F : (Eyes wandered) “Hmmm…kuliah gue, baik2 aja. Eh, lo juga belajar tentang mata kuliah ini kan? Gimana menurut lo? By the way, kepengurusan organisasi X jaman lo dulu gimana? Pasti oke ya…bla bla bla”
M : (Starring silently)
F : (“….iiih, aneh banget sih ni orang…pendiem gila, pendiem mampus…orang udah cape2 ngomong panjang lebar, jawabnya satu kata. Gimana kalo gue ngomong satu cuma 1 kata?…”)
—————— 2 bulan kemudian ———————-
M : “I knew it from the first time.”
F : “Knew? What?”
M : “That you shall have a hidden problem inside your heart.”
F : “…”
M : “It was just strange to see ur face full of smile but ur eyes filled with agony.”
F : “How do you know that?” You only knew me for 1-2 hours!”
M : “Because eyes can’t lie….”

Kisah # 3 – Malam itu di sebuah kafe di luar kota Jakarta
Selama ini mungkin banyak yang menyangka bahwa hidupku begitu indah. Di balik itu semua, hidupku tidak semanis itu. It seems too complicated to explain. Afeksi dari orangtua yang tak pernah kudapat. Cinta semu dengan orang-orang nggak beres yang satu dua kali lewat begitu saja, tanpa meninggalkan kesan apa-apa. Hubungan bodoh yang kujalin lama dengan seseorang yang pada akhirnya jutsru malah hanya menimbulkan malapetaka. Aaahh…untung semua itu sudah kujadikan pelajaran hidup yang kalau didramatisir dikit-dikit, mungkin bisa jadi satu novel sendiri yang ga kalah sama ceritanya Danielle Steel, heheh…
Back to the story, singkat kata aku dan dia sudah berada di sebuah kafe di luar kota Jakarta. Pemandangannya bagus, sayang waktu itu sudah terlalu gelap untuk dilihat dengan jelas. Perasaanku bimbang tak karuan. Aku begitu takut untuk memutuskan sesuatu, takut kembali salah menapakkan kakiku. Ketika akhirnya dia mengucapkan kata itu, aku termenung sejenak.
Kulihat matanya. Dalam-dalam.
Dalam remangnya malam aku masih bisa menemukan setitik cahaya, lambang tulusnya sebuah perasaan.
Entah apa yang mendorongku dan memberiku kekuatan untuk menjawab.
Lewat kesungguhan dari dalam matanya, aku yakin bahwa dia-lah yang dipilihkan Tuhan untuk menemaniku.
Eyes can’t lie, and love does neither.
Saat itu aku telah berjanji untuk tidak mengkhianati kata2ku sendiri, bahwa tidak semua yang terbaik muncul dalam bentuk yang paling kita inginkan.
Tapi bagaimana kita bisa mengisi ruang kosong dalam diri satu sama lain supaya hidup ini terasa lengkap walau tak mungkin sempurna.
Ah, menulis cerita ini rasanya aku ingin menangis…
Bahagiakah aku sekarang??
Bangun pagi, seharian penuh berkutat dengan pekerjaan, pulang di kala hari sudah tergolong malam..
Entah mengapa, aku bahagia melihat kehidupanku di masa lalu. Bisa tertawa tanpa beban, bisa menghabiskan waktu dengan teman-teman, bisa membelanjakan rupiah demi rupiah tanpa penyesalan.
Sekarang, aku punya penghasilan sekian. Tak bisa seenaknya kuhabiskan karena harus cukup untuk uang transport dan makan selama sebulan. Sisanya pun sayang untuk dibelanjakan barang baru yang up-to-date yang hanya bertahan sebentar di pasaran. Sementara 6 bulan ke depan barang tersebut tak ubahnya seonggok sampah yang memalukan untuk dikenakan.
Sekarang, aku punya penghasilan sekian. Tidak terlalu kaya tapi juga tidak buruk2 amat. Tapi diri ini masih ingin mencari yang lebih dan lebih lagi. Baik hanya mengejar prestise maupun mengejar materi. Sampai kapan ini bisa berhenti sebelum aku sendiri yang mengakhiri?
Sekarang, aku punya penghasilan sekian. Memang masih mimpi untuk menjadikan gaji sebulan cukup untuk jalan-jalan ke Disneyland. Tapi aku punya seseorang yang mau mendengarkan keluh kesahku seharian. Aku punya seseorang yang mau berbagi pengalaman dan cerita yang belum pernah kudengar sebelumnya. Aku punya seseorang yang membuatku tak pernah lagi merasakan sepi dan hampanya kehidupan tanpa cinta dan kasih sayang.
Sepertinya sesekali aku harus meluangkan waktu minum kopi di sebuah kafe di siang hari lagi. Supaya aku bisa melihat betapa hidup ini penuh dengan ironi. Supaya aku bisa bersyukur punya seseorang yang siap berbagi kapan pun dan di manapun aku membutuhkannya. Supaya aku bisa bersyukur tidak ditakdirkan jadi orang kaya yang ‘buta’ akan rasa kemanusiaan terhadap sesama. Supaya aku bisa merasakan betapa susahnya mencari 35.000 IDR untuk membayar segelas Caramel Frappuccino yang rasa nikmatnya hanya sampai sebatas kerongkongan…