Monday My Day

March 24th, 2008 by criviolet

Jicc_albumIt’s been a long time since I wrote in my so-called lovely blog for the last time. Yahaaaa…, of course I did, since I already have our own blog in blogspot (one reason why blogspot is better is because it has the privacy settings that we can adjust and set up based on what we need). But never mind lahh… (just like my ex-boss used to say).., I need this blog again right now to express all my deep-down feeling on everything…, especially my reborn in singing!

****

I used to hate Monday (and any other weekdays, actually, haha LOL), but since several months ago, I do think that it becomes my day. Yes, my day. I feel new experience in singing. All new. New community, new environment, new great songs! I must thank God for this.., and thanks for my mother-in-law-to-be (I really do, haha…) for the valuable information ^.^

***

And yes, the new marvelous songs I’ve learned are ranged between classic, jazz, swing, folk, broadway, to…salsa! (I badly want to be able to dance in Salsa rhythm after this!) The first song I got: Love Will Find A Way, the original soundtrack from Disney’s Lion King 2: Simba’s Pride. My Godnesssss, that is one of my favorite song of all time from Disney. Though it’s quite unfamiliar since the Sopranos didn’t sing the melody, but it still feels nice. Hmm..hopefully this song will be nominated for the next concert ^.^

**

The others songs are also splendid! My favorite is Jamaica Farewell, absolutely. That will be my song in this Spring Concert. Yesterday, we not only learned to sing that song, but there were two instructors from Germany who taught us for the choreography (thanks to Herbert for last night!).

*

I just can’t wait to see our performances ^.*

See you later in May!

Bookmark and Share

Question No. 1: Do I Still Have to Keep In Silence?

September 6th, 2007 by criviolet

Amazingly, just in one easy step, I moved on into another world. Yep, ‘another world’ here means one more place to work. I haven’t been dreaming to see my future like this (though honestly the secret of my future still linger in my mind…).

Nggak perlulah gue jelasin kenapa gue tiba-tiba malah jadi kutu loncat gini dalam setaun terakhir. Feeling bahwa ilmu HI itu totally useless buat gue nyatanya sudah terbukti seratus persen. What a waste! *arggggh* But now the more I learned that what we like is not always become our luck. Siapa yang ngira kalo sekarang gue ada di perusahaan jenis kontraktor yang sehari-harinya ngurusin pembangunan jalan, gedung, dan PLTU di seluruh dunia?

Kalo dipikir-pikir ya, ‘ngerti apa gue?’  Secara basic gue adalah anak IPS dan bukan anak IPA. Dari jurusan HI yang jauh ilmunya dari teknik sipil. Believe it or not, it takes a hard effort to absorb a total different knowledge at these times. Rasanya otak gue udah terkontaminasi penuh sama ilmu-ilmu abstrak dan bukan yang praktikal kayak gini…

And then my favorite quotes proves once again; “what I like is not always become my luck, and so is my luck,  not always comes from things that I like”

Kenapa berkali-kali gue sebut ini keberuntungan? Karena secara prosedural, gue tidak pernah apply ke perusahaan ini. Sekalipun seterusnya pake proses seperti orang pada umumnya, tapi tetep aja, bagi gue yang udah puluhan kali ngirim lamaran kerja, had lots of interviews, several FGD, and a couple of final discussions (and then failed), ini adalah semacam ‘jalan’ yang tiba-tiba gue temukan saat gue tersesat di sebuah hutan pedalaman…

Again, things are not as simple as we can think of. Another implications unbearably comes on my way…

 

N645273551_280395_9275

Ah, sudahlah. Ngomongin hal-hal kayak gini bikin gue bergidik lagi.

Bookmark and Share

When Love Was Only Make-Believe, and Fairy Tales Were Real

April 26th, 2007 by criviolet

Can you remember, back to a simpler time? Back to the watercolor days…,that still run through your mind…Oh, I remember! Just my old friend and me, runnin’ through an open field. The way it used to be…

Dulu, setiap hari Rabu datang , gue ga pernah absen dengerin Wednesday Slow Machine, program mingguan-nya KIS FM, di mana kalau lo adalah salah satu orang yang selalu up-to-date ngikutin tren musik, jangan pernah mampir ke saluran ini, hehe… Dan kemaren, ketika gue kembali mendengarkan program ini setelah sekian lama nggak, tiba-tiba gue dikasih kejutan dengan diputernya lagu Brian McKnight jaman jadul mampus. Mending kalo masih seumuran Back At One atau One Last Cry, tapi lagu ini seinget gue, video klip-nya dulu cuma sempat menghiasi channel RCTI. It means; lagu itu release di awal tahun 1990-an, di saat SCTV aja sebagai channel swasta kedua blom ada! (Dan kalo dipikir-pikir, gue juga masih seumuran jagung saat itu, secara gue masuk SMP aja baru taun 1996)
Dulu gue, dengan bangganya, sempet bilang ke temen-temen; “ih, itu lagu gue banget!” Yah, literally nggak gitu juga sih. Jaman dulu bahasa gaul a la ABG-nya kan juga beda kosa kata. Tapi intinya, dengan mengambil lokasi di Disneyland (FYI, yang di Florida ya, bukan Hongkong secara pastinya blom ada yang namanya Disneyland di Hongkong), gue jadi suka mampus sama itu lagu, karena seinget gue juga, gue dari dulu sudah sangat tergila-gila sama produk Disney. Then, yes, angan gue langsung menggembara ke sana. Hey, I’ll be there someday! I’ll go to every corner around the world!!
Dl50a

The feeling that our hearts could just take wings, we could live out all our dreams, the journey there was never far away. But like a dream come true, that’s still inside of you.
The secret of tomorrow is; to live your dreams today…

Tapi itulah yang dinamai mimpi. Dia akan datang di kala malam, dan lenyap ketika pagi menjelang. Nggak sempet gue tangkep, ia pun sudah pergi lagi memupus harapan. Tentu yang waktu itu bisa gue lakukan adalah menjalani hari demi hari yang ada tepat di depan. Sembari bersungut-sungut, dalam hati gue pernah berkomentar; “enak ya jadi anak orang kaya raya, bisa liburan ke luar negeri hampir tiap bulannya…” Walaupun beberapa tahun kemudian, gue nyesel banget pernah berpikiran sepicik itu.

Remember the night, remember the feeling, remember the magic in our lives…

Gue pun mencoba untuk meraih impian tadi dengan tangan gue sendiri. Gue sadar, keliling dunia atau at least, pergi ke Disneyland sana butuh dana yang sangat tidak sedikit (sambil membayangkan gimana enaknya kalau Amerika sekarang perekonomian runtuh, kena sanksi dari masyarakat internasional, kena embargo minyak dari negara-negara Arab, mengalami inflasi besar-besaran sampe nilai satu dolar setara dengan seratus rupiah saja…, okay stop it! it’s far beyond reality!). Dan mungkin sekarang gue bisa-bisa aja pergi ke sana sendirian, with the fastest way a.k.a. ‘ngerampok’ bokap nyokap gue. Tapi, ya ampun, mana enak? Mau ditaro di mana muka gue sebagai anak yang udah terlalu gede dan udah harus bisa mendiri mengarungi kehidupan yang penuh rintangan ini? Huhuh..

You opened up my eyes, to a new world revealing. So remember the magic.., just remember the magic…, one more time.

Dan mimpi itu pun terus saja berlanjut sampai akhirnya gue lulus kuliah. Bodohnya gue, gue baru sadar bahwa ada dunia lain yang harus gue hadapi sebagai seorang manusia dewasa. Dunia baru ini, sumpah, nyaris bikin gue gila. Dunia ini rasanya beda banget sama dunia yang sebelumnya. It’s a real world, babe, really hard, but it’s much more challenging though!
Gue baru tau bahwa semasa kuliah dulu, gue terlalu ‘fokus’ mencapai cita-cita gue sejak kecil itu. Sampe akhirnya gue melupakan ribuan hal lain yang blom pernah gue jamah (ups, by no means to do sexually speaking lho!). Dulu sih, gue pikir hidup itu simpel dan gampang-gampang aja. Punya temen di mana-mana untuk hang-out bareng setiap saat, cukup. Punya pacar untuk status, cukup. Berada di antara orang-orang yang bisa membantu merealisasikan mimpi kita, cukup.
But something’s shocking me so much, that a good life is not only about indulging your life or achieving something as well. The keyword is; accepting. Ternyata, menerima semua yang kita dapatkan sampai hari ini adalah hal yang paling membahagiakan yang pernah ada.


Do you remember the way it used to feel? When love was only make-believe, and fairy tales were real? Oh, I remember! You were with me once again. Free to live our fantasies, it never has to end. And now I know where to begin…, how to find it all again.
From now until forever…

Mimpi itu masih ada, dan akan terus ada. Jadi, kalo satu saat ada orang yang tanya apa impian gue, gue masih akan menjawab dengan kalimat yang sama dengan lima belasan tahun yang lalu.
Dan kalaupun yang gue lakukan sekarang terlihat sangat jauh dari gambaran ideal untuk mencapai mimpi itu, gue akan bilang; semua ini cuma proses untuk menuju ke ‘sana’.

The faith is always kept in my heart…

You opened up my eyes, and you gave life new meaning.
So, remember that feeling…
Just remember the magic,
one more time.

Images

Bookmark and Share

Unbearable Habit of Writing

April 20th, 2007 by criviolet

Pagi ini aku kesal setengah mati. Lima menit yang lalu ponselku berbunyi. Antusias aku mengangkat. Kupikir itu Reno, kekasih tercinta yang selalu datang ke apartemenku tiap Sabtu pagi.

Namun ternyata Bapak yang menghubungi. Ia menyuruhku segera datang ke rumahnya untuk dikenalkan pada keluarga Prasodjo Birowo, salah seorang pengusaha tersukses di tanah air pada jaman keemasan Soeharto. Ternyata, beliau teman main Bapak sewaktu kecil.Ternyata pula, mereka telah menjodohkan aku dengan anak laki-laki pertama Prasodjo Birowo.

Bukan main terkejutnya aku. Apa Bapak tidak punya hati? Mau dibawa ke mana hubunganku dengan Reno dua tahun belakangan ini? Jelas aku menolak. Tapi Bapak bilang jika menolak aku akan kualat. Berendam selama satu jam dengan aromaterapi dan busa berlimpah barusan tak lagi membuatku bersemangat. Mau tak mau aku harus pergi dan membatalkan rencana manis dengan Reno pagi ini.

Di dalam mobil aku membisu. Seketika bayangan perjalananku dua tahun terakhir bersama Reno muncul sekelebat satu demi satu. Ia lelaki yang sungguh baik hati. Ia pintar tapi tak pernah menggurui. Ia sabar dan tak pernah terpancing emosi. Ia kekasih yang lengkap kecuali kemapanan materi.

Tapi, bukankah aku memang mencintai Reno apa adanya? Bukankah itu memang keputusanku untuk berpacaran dengan lelaki yang empat tahun lebih muda? Seketika air mataku jatuh membasahi pipi. Akankah ini akhir dari hubungan kami?

Sampai di rumah Bapak mataku sembab tak karuan. Dandananku yang tadinya menawan kini berantakan. Ah, aku tak peduli. Toh aku memang tidak mau dijodohi.–

   “Ini Nadya Pratiwi, putri pertama kami. Lulusan Bisnis Internasional dari Melbourne University.

     “Nadya, kenalkan, ini Bayu Sulistyono Birowo, anak Om Prasodjo yang baru selesai mengambil S2 di Jerman. Ia sekarang menangani empat perusahaan milik Om yang bergerak di bidang teknologi informasi…”

Jantungku serasa meledak. Seketika aku malu dengan penampilanku yang kacau dan kemudian segera permisi ke kamar mandi. Malu aku pada lelaki itu. Lelaki bernama Bayu yang tadi diperkenalkan padaku.

Di cermin, selesai merapikan dandanan di wajah, aku tersenyum pada diriku sendiri. Mantap sudah pilihan yang akan kujalankan.

Saat itu juga aku lupa Reno. Bukan karena Bayu lebih tampan. Bukan karena Bayu punya empat perusahaan. Bukan karena Bayu anak Prasodjo Birowo sang milyarder kenamaan.    

Tapi karena Bayu adalah cinta pertamaku. Mantan kakak kelasku yang semenjak SMP telah kukagumi dan kupuja tanpa henti. Seorang lelaki yang kerap menghiasi mimpiku bahkan sampai tadi malam. Dan selebihnya, yah, kuanggap saja itu sebagai sebuah keberuntungan.

                                         (Larangan, 25 Juli 2006)

———————————————————————————————————————-

Published as one of the Best Story in "Flash Ficition Competition" of Gramedia Pustaka Utama - 2006

(See http://vervain.blogspot.com for details)

——————–

…it’s ‘just’ a flash fiction anyway…,

if only i could have more time to implement my unbearable habit of writing…

                                                                                                 

Bookmark and Share

Thing That Ruins

April 18th, 2007 by criviolet

***

Some things that I really condemn when I’m at the office:
Slow internet connection, moody colleagues who will successfully annoy you when you’re drowning in your overwhelmingly busy time, your seniors (i’m not saying such level of supervisor or manager, but seniors, who obviously have been trapped in their stagnant position, with same job description as yours, but with their cocky style they always tend to underestimate what you’re doing… *sigh*), and slow internet connection…(did I mention that?)

Thursday afternoon. I’m imagining sit down in a comfy chair, or feathery sofa, with a best-seller novel in my hand, reading without stopping, slurping the ultimate taste from a huge cup of Caramel Frappuccino…, but the undeniable truth is: I can’t live like that. My life wouldn’t stop right after I graduate from university. There’s more is waiting to be achieved, to be gained. It is important to think what you’ll do next and set your future up. I was thought that someday every woman in this world could have a opportunity to be successful; both in career, and also in family. But I was erroneous. There few of them, but not many people can have that kind of ‘perfect’ life.180407_17302

So, what will I do next? A question that seems too familiar. But for me, it’s an anxious thing to be answered. My so-called-complicated mind needs a deep contemplation, again, after more than a year without. The sad thing is, I really don’t know how to pick what I desirably want. And the worse is, I don’t know where to run, at least for a while, as what I oftenly did to throw my confusion away. But a following question that come up then; what makes me that bewildered anyway? Having a perfect boyfriend (I mean, unless the fact that he’s insanely- jealousy-burned), having a good job with great responsibility, having a very giving family. But one thing that ruins: I have a dream without knowing how to make it true.

The right is not in me.
But I don’t want to misplace everything to get my right completely.

>>>>>>>>>>>>>>> ARRRRGH! <<<<<<<<<<<<<<<<

That’s what I hate…
I feel so much ruined,
When I know that I can’t change my fate.

***

Bookmark and Share

Into A Diplomat (Wanna-Be)

April 9th, 2007 by criviolet

**
This is a story about last nite.
Kami datang pukul tujuh tepat di Puri Agung Sahid Jaya Hotel. Setelah melintasi jalanan minggu malam yang tak kenal kata macet, sembari setengah mencoba menjadi Kimi Raikkonen tiruan dengan mengendarai mobil di atas kecepatan rata-rata dengan maneuver ke kanan kiri yang sangat tidak berperikemanusiaan. Huh! Ini semua gara-gara kami udah disediain tempat di front row, dan paling nggak enak emang dateng telat seraya mengendap-endap ke barisan paling depan dipandangi tatapan puluhan orang lain dengan pandangan tidak menyenangkan. Niatnya sih memang kami mau berangkat jam enam.., sayangnya, sejak dulu saya tak pernah cukup waktu satu jam untuk berdandan…

Ooops, I guess I’m too much talking. Let’s jump to the whole story now…

Kami duduk di depan. Not at the first row literally, secara baris paling depan adalah tempat sang Wakil Presiden Indonesia kebanggaan (really, huh? Well, FYI, at first, I was amazed how a Palestinian could make this kind of luxurious book-launching event, but at the end, I got the answer where the money comes from…) Then we took
the second row. It’s pretty close from the stage and podium. Waw, posisi memang benar2 menentukan ‘prestasi’, hihi…duduk di sini PW, pokoknya bikin PD berat bahwa nantinya pasti ada yang mau join di table kami.Dscn05102resize

Untungnya kami kenal juga beberapa tamu undangan. Kalo nggak kan sepertinya agak garing juga ngobrol berduaan doang sementara si empunya acara sedang sibuk mempersiapkan bahan presentasinya.
Perkiraan kami tepat 100%. Nggak sampai 15 menit, table kami terisi penuh. Phew, it’s time to make some ‘basa-basi’ thing with them.
Pertama, jurus basa-basi yang bernada simpati:
“Ibu apa kabar? Dengar-dengar Bapak baru pulang dari tugas di Jepang ya…? Oh.., Tanzania? Untungnya kondisi di sana aman ya, Bu…tidak seperti di Kenya atau Pantai Gading yang sehari-harinya perang saudara..entah apa rasanya bertugas diantara letusan senjata…?”
… atau yang bernada menyanjung seperti ini:
“Oh, iya, jadi sekarang anak Ibu tinggal di San Fransisco? Hebat ya, Bu..bisa ‘meneruskan’ keluarga Ibu yang lama bertugas di sana…”
…dan yang menyatakan dukungan seperti ini: “Oh ya? Jadi Ibu sekarang akan tinggal di New Zealand? Wah, memang betul sekali itu Bu, tinggal di New Zealand sangat tepat untuk orang yang akan retired seperti Bapak…pemandangannya ya Bu, indah sekali. Hijau dari Barat sampai ke Timur…pasti damai rasanya..”
(Sigh!)
Itulah serangkaian acara basa-basi ala komunitas *tiiiiit…*. Cukup sudah. Kami tak tahan juga lama-lama…seperti ingin muntah.
Selanjutnya kami lantas bersantap makanan a la Timur Tengah seperti tandoori dan kebab. Tidak terlalu enak bagi lidah kami, tapi tak apalah untuk mencicipi. Kapan lagi?

Di seberang table kami, ada dua orang wanita berpakaian lengkap dengan gamis serupa jubah dan kerudung model setengah. I guess I know them. Oops, yeah, mereka dua orang Nigeria yang pernah satu table dengan kita sebelumnya di acara lain. Dua orang wanita, selalu bersama. Waktu itu sempat kutanya kenapa mereka datang berdua, dan lantas apa hubungan di antara mereka. Surprisingly, they said: “We live together, live at the same house, and share the same…husband!” OMG! Lantas, ke mana suami mereka yang menganut azas poligami itu? It still becomes a mystery. Dulu kami tak melihat si suami yang notabene adalah Dubes Nigeria untuk Indonesia. Kini pun kami tak melihatnya. Mungkin ia memang tidak ingin terlihat langsung bersama dua wanita yang jelas-jelas akan mempermalukan dirinya sendiri. Lagipula, saya pribadi merasa agak aneh melihat kedua wanita itu begitu akrab padahal mereka hanya mendapat hati yang terbagi. What a life…

Sampailah kami di acara penutupan. Photo session, of course. Tapi ya, secara mereka orang-orang penting (or, at least, berasa penting), jadi kami nggak sudi juga mempermalukan diri sendiri dengan mengajak mereka berfoto bersama kalo nggak kenal sama sekali. Untung pas pulang, kami jalan bareng satu grup tamu…dan salah satunya adalah Ali Alatas. Waw, bukannya mau rese dan bangga dengan berfoto bersama beliau, tapi ketemu langsung dan berbicara sepatah dua patah kata dengan dirinya membuat saya terpana: ooh, ini toh mantan Menlu yang selama tugasnya memiliki dedikasi dengan otak dan manner-nya. Kenyataannya, sekalipun namanya sangat dikenal orang, beliau betul-betul ramah pada kami. At least I know why only few people could be more than a famous person; it’s very hard to be a person who’s respected by many people, and he’s definitely one of them.

Dscn0513resize

Dscn0517resize

Dscn0515resize

Sebelum pulang, ketika kami tengah berpamitan dengan para tamu lainnya, seorang yang duduk di table kami sempat berpesan sedikit pada saya: “Sampai ketemu Intan…, nanti masuk Deplu ya.”

——–SIIIINGGGG——–

Suddenly I was out of reality, it seems like a journey to the past, back into my previous dreams, then I couldn’t remember where I am.
Yes, I know that somehow it’s a dream of mine. But…&^*&^(^#$%)*&)
There’s so many things becoming my consideration when I was thinking to be a diplomat lately. I don’t understand when my heart ever said ‘NO’.

………….

But, people sometimes change their mind.
As long as the mind hasn’t been a certainty:
either to be…, or not to be…

*Sigh*

Lihat sajalah, kata saya dalam hati.
Kemudian berlalu pergi.

Bookmark and Share

Morning Dew…, Give Me A Clue

March 27th, 2007 by criviolet

Sebuah percakapan yang cukup kompleks dengan para kolega masa kuliah cukup membuat saya tersentak dan membawa sebuah pertanyaan pahit; mau jadi apa sih sebenernya gue??
Terkadang kita memang tidak akan pernah tahu ke mana nasib membawa. Tapi kalau semisalnya saya mau mengunjungi Cina, masa saya lantas pergi ke Australia? Tentu akan semakin jauh jalan menuju ke Cina. Akan semakin berputar saya harus mengarungi daratan dan lautan sehingga sampai di tempat yang kuinginkan. Dan selama itu pula waktu akan sia-sia terbuang.

Ketika itu saya baru lulus kuliah. Keinginan berkarir di perusahaan multinasional menggebu-gebu tak tertahankan. Pokoknya saya
kekeuh harus jadi orang kantoran. Tiap pagi bangun, sarapan, mandi, pilih-pilih satu set pakaian yang kugunakan hari ini, plus aksesori, berangkat ke kantor, ke wilayah Sudirman, sampai dengan tenang dan bekerja dengan giat. Begitu rumus idealnya.
Tapi ternyata seringkali rumus ini yang akhirnya kugunakan: bangun kesiangan karena waktu kuliah sudah terbiasa, kadang tak sempat sarapan, mandi sekenanya, minta pembantu setrika pakaian yang lecek dari lemari, aksesori ketinggalan, naik bis Patas AC 44 ke kantor, berdiri, macet sekali, satu setengah jam padahal cuma ke Sudirman, sampai di sana kaki pegal tak keruan!

Satu bulan.
Dua bulan.
Hasilnya?
Saya bisa belanja pakai uang sendiri. Sepuasnya.
Bahkan hidup pakai uang hasil kerja saya sendiri. Senangnya bukan main.
Apalagi dengan jumlahnya yang ternyata tak main-main pula.
Tapi apa?
Kepuasan diri tetap tidak saya dapatkan. Nol.
Nihil.
Awalnya saya pikir kesalahan ada pada perusahaan. Nggak cocok aja, gitu.
Daripada diteruskan, aku lebih memilih pindah. Dan inilah perusahaan kedua.
Dua tempat dalam enam bulan, and it surely not good for my resume, huhuh..
Saat kepuasan batin itu sampai kini pun tak kunjung muncul, lantas aku bertanya-tanya; apa yang saya mau perbuat setelah ini?

Entahlah.
Mungkin ada jalan lain setelah ini.
Mungkin saya akan tersadar dalam perjalanan ke Australia dan segera memutar balik menuju Cina.
Supaya waktu yang kini berjalan tak akan lebih lama lagi terbuang percuma.

So.., morning dew,
Would you give me a clue?

Bookmark and Share

A Story from the Coffee Shop

March 21st, 2007 by criviolet

……………….

Tuhan itu memang adil. Diberinya aku penyakit yang tidak tanggung-tanggung –sampai menyebabkan aku absen 3 hari dari kantor— di saat kerjaanku lagi membludak. Tapi justru dengan 3 hari absen dari kantor, entah mengapa inspirasiku untuk menulis muncul lagi, setelah sekian lama kering kerontang seperti rumput di musim kemarau. Aku tidak tahu ini pertanda baik atau buruk. Yang jelas, mudah2an tidak ada salah satu teman kantor yang membaca tulisan ini, paling tidak hari ini, saat dirinya sedang banting tulang meng-cover pekerjaanku yang seharusnya deadline dari kemarin… (Tuhan, ampunilah diriku..)

Inspirasi menulis ini entah bagaimana caranya muncul sejak pagi tadi. Inginnya sih.., aku bisa langsung buka laptop dan membiarkan jari2 ini menari di atasnya. Tapi aku baru ingat kalau laptop satu2nya sedang rusak. Ya sudah, mau tidak mau aku harus menulis di PC lama yang monitornya pernah sukses membuat mataku terkena minus silinder sekian ketika lagi hot-hotnya bikin skripsi. Sampai sekarang pun aku masih menganggap garis tepi atas bawah kiri kanan di Microsoft Word ini miring sekitar 15 derajat walaupun sebenernya 100% lurus total.

Kembali ke inspirasi tadi. Jadi, aku putuskan untuk sarapan dulu sejenak setelah aku tersadar dari tidur panjangku semalaman. (coba hitung, dari jam 8 malam sampai 8 pagi! Hibernasi beruang kutub saja kalah…) Obat antibiotik yang baru hilang efeknya mau tidak mau harus kutenggak lagi demi mempercepat kesembuhan.

Lalu aku pun mulai menulis. Sebaris, dua baris. Aaah…dulu kok rasanya nikmat sekali berjam2 di depan PC? Apa memang karena terpaksa oleh kondisi? Bahwa aku punya puluhan tugas yang harus kuselesaikan untuk tugas harian, bulanan, maupun tugas akhir? Lantas sekarang, saat tidak ada ‘aturan’ yang memaksaku untuk berkutat di depan PC, jari2ku jutsru semakin malas bekerja?

Images

Kisah #1 – Siang itu di sebuah Coffee Shop

Aaaaah, betapa membosankannya mata kuliah siang ini. “Cabut yuk, cabuuut!” Ajakku pada beberapa orang teman. “Ayoooo….,” serentak yang lain pun mengikuti koor yang sama.

Sampailah kami di sebuah kafe ternama. Tak usahlah kusebut namanya. Bosan. Bosan dan semakin bodoh aku dibuat karena popularitasnya. Bayangkan, secangkir kopi hitam paling murah dihargai 25.000 IDR. Padahal petani kopinya saja perlu bersusah-payah menanam biji demi biji kopi demi sesuap nasi untuk dirinya dan keluarganya.

Kafe itu sejuk sekalipun matahari di luar amit-amit menyengatnya. Langsung kubuka laptopku dan mulai mengetik di sana. Mengetik apa saja. Kalau teman yang lain tanya, aku bilang sedang nulis draft makalah Ekopolin atau Perdam. Beres. Mereka pun akan memilih diam dan tidak menggangguku karena sudah cukup jengah juga dengan kata-kata ‘makalah’.

Aku memesan Caramel Frappuccino favorit, sambil terus menulis. Sementara orang-orang hilir-mudik di mal, bisa kulihat dengan jelas dari balik etalase kaca yang bening. Tentu saja aku tidak menulis sebuah draft makalah. Aku lebih tertarik menulis tentang ‘mereka’. Ya, mereka yang hilir-mudik di luar etalase kaca, sambil menenteng minimal satu tas belanja berlabel SOGO atau METRO Department Store (Oh…tolong dicatat, waktu itu belum jaman Debenhams ya…)

Betapa kaya-kayanya orang Indonesia, pikirku saat itu.

Ada ibu-ibu muda yang jalan melenggang bagai supermodel di atas catwalk, menjinjing clutch Hermes yang paling up-to-date model dan warnanya, yang beberapa langkah di belakangnya seorang supir pribadi setia membuntutinya, penuh dengan jinjingan tas-tas berlabel ternama di kanan kiri. Yang beberapa langkah di belakang supir necis itu terseok-seok seorang baby-sitter yang sedang membawa tas pakaian bayi sambil menggendong anak perempuan lucu tanpa dosa di bahunya. 

Betapa ironisnya orang kaya di Indonesia, pikirku lagi.

Kuseruput Caramel Frappuccino-ku yang hampir mendekati titik darah penghabisan. Makin kutahan isapanku.

Takut keburu habis.

Sementara aku masih ingin menulis banyak hal tentang apa yang kulihat siang itu.

Images1

Kisah # 2 – Sore itu di sebuah restoran siap saji

M         : “So, tell me what’s wrong with you..”

F          : ”What? Are you kidding? Nothing!”

M         : “Oke, oke, kalo gitu, cerita dong…tentang apa aja.”

F          : (Eyes wandered) “Hmmm…kuliah gue, baik2 aja. Eh, lo juga belajar tentang    mata kuliah ini kan? Gimana menurut lo? By the way, kepengurusan organisasi X jaman lo dulu gimana? Pasti oke ya…bla bla bla”

M         : (Starring silently)

F          : (“….iiih, aneh banget sih ni orang…pendiem gila, pendiem mampus…orang udah cape2 ngomong panjang lebar, jawabnya satu kata. Gimana kalo gue ngomong satu cuma 1 kata?…”)

—————— 2 bulan kemudian ———————-

M         : “I knew it from the first time.”

F          : “Knew? What?”

M         : “That you shall have a hidden problem inside your heart.”

F          : “…”

M         : “It was just strange to see ur face full of smile but ur eyes filled with agony.”

F          : “How do you know that?” You only knew me for 1-2 hours!”
M         : “Because eyes can’t lie….”

120pxclose_up_yellow_rose

Kisah # 3 – Malam itu di sebuah kafe di luar kota Jakarta

Selama ini mungkin banyak yang menyangka bahwa hidupku begitu indah. Di balik itu semua, hidupku tidak semanis itu. It seems too complicated to explain. Afeksi dari orangtua yang tak pernah kudapat. Cinta semu dengan orang-orang nggak beres yang satu dua kali lewat begitu saja, tanpa meninggalkan kesan apa-apa. Hubungan bodoh yang kujalin lama dengan seseorang yang pada akhirnya jutsru malah hanya menimbulkan malapetaka. Aaahh…untung semua itu sudah kujadikan pelajaran hidup yang kalau didramatisir dikit-dikit, mungkin bisa jadi satu novel sendiri yang ga kalah sama ceritanya Danielle Steel, heheh…

Back to the story, singkat kata aku dan dia sudah berada di sebuah kafe di luar kota Jakarta. Pemandangannya bagus, sayang waktu itu sudah terlalu gelap untuk dilihat dengan jelas. Perasaanku bimbang tak karuan. Aku begitu takut untuk memutuskan sesuatu, takut kembali salah menapakkan kakiku. Ketika akhirnya dia mengucapkan kata itu, aku termenung sejenak.

Kulihat matanya. Dalam-dalam.

Dalam remangnya malam aku masih bisa menemukan setitik cahaya, lambang tulusnya sebuah perasaan.

Entah apa yang mendorongku dan memberiku kekuatan untuk menjawab.

Lewat kesungguhan dari dalam matanya, aku yakin bahwa dia-lah yang dipilihkan Tuhan untuk menemaniku.

Eyes can’t lie, and love does neither.

Saat itu aku telah berjanji untuk tidak mengkhianati kata2ku sendiri, bahwa tidak semua yang terbaik muncul dalam bentuk yang paling kita inginkan.

Tapi bagaimana kita bisa mengisi ruang kosong dalam diri satu sama lain supaya hidup ini terasa lengkap walau tak mungkin sempurna.

Ah, menulis cerita ini rasanya aku ingin menangis…

Resize_of_dscn0345112 

Bahagiakah aku sekarang??

Bangun pagi, seharian penuh berkutat dengan pekerjaan, pulang di kala hari sudah tergolong malam..

Entah mengapa, aku bahagia melihat kehidupanku di masa lalu. Bisa tertawa tanpa beban, bisa menghabiskan waktu dengan teman-teman, bisa membelanjakan rupiah demi rupiah tanpa penyesalan.

Sekarang, aku punya penghasilan sekian. Tak bisa seenaknya kuhabiskan karena harus cukup untuk uang transport dan makan selama sebulan. Sisanya pun sayang untuk dibelanjakan barang baru yang up-to-date yang hanya bertahan sebentar di pasaran. Sementara 6 bulan ke depan barang tersebut tak ubahnya seonggok sampah yang memalukan untuk dikenakan.

Sekarang, aku punya penghasilan sekian. Tidak terlalu kaya tapi juga tidak buruk2 amat. Tapi diri ini masih ingin mencari yang lebih dan lebih lagi. Baik hanya mengejar prestise maupun mengejar materi. Sampai kapan ini bisa berhenti sebelum aku sendiri yang mengakhiri?

Sekarang, aku punya penghasilan sekian. Memang masih mimpi untuk menjadikan gaji sebulan cukup untuk jalan-jalan ke Disneyland. Tapi aku punya seseorang yang mau mendengarkan keluh kesahku seharian. Aku punya seseorang yang mau berbagi pengalaman dan cerita yang belum pernah kudengar sebelumnya. Aku punya seseorang yang membuatku tak pernah lagi merasakan sepi dan hampanya kehidupan tanpa cinta dan kasih sayang.

Sepertinya sesekali aku harus meluangkan waktu minum kopi di sebuah kafe di siang hari lagi. Supaya aku bisa melihat betapa hidup ini penuh dengan ironi. Supaya aku bisa bersyukur punya seseorang yang siap berbagi kapan pun dan di manapun aku membutuhkannya. Supaya aku bisa bersyukur tidak ditakdirkan jadi orang kaya yang ‘buta’ akan rasa kemanusiaan terhadap sesama. Supaya aku bisa merasakan betapa susahnya mencari 35.000 IDR untuk membayar segelas Caramel Frappuccino yang rasa nikmatnya hanya sampai sebatas kerongkongan…

Bookmark and Share

A Kind of Thing Called Love

March 4th, 2007 by criviolet

Late at night…I can’t sleep.

Thinking of you all the way. That life could be so empty with you’re not there.

Then I turn off the light. Lay here in the dark. A rendezvouz comes in sudden. What if I would never met you? I am trying to remember myself and what was happened. What was happened before I met you.

My head’s spinning around. I wasn’t a perfect person at all when I realize that ‘good’ was not enough.

It blows up my mind. Your face is come along. Yes it’s you, who taught me of everything we possibly be. Taught me things that I didn’t understand but confessed as if I was the expert one.

Taught me a kind of ‘love’ that I’d never imagined could be happened in this hypocrete life.

I love you, hun…

with or without you around.

With all those happiness and sadness come.

I just wanna say thank you for all you’ve done, in the last one and a half year of my prescious life.

Upload_1

a tender kiss for Aurora…

woke her up in the morning :)

Bookmark and Share

Reflection of Sinatra’s

November 26th, 2006 by criviolet

Ive loved, Ive laughed and cried.
Ive had my fill; my share of losing.
And now, as tears subside,
I find it all so amusing.

To think I did all that;
And may I say - not in a shy way,
No, oh no not me,
I did it my way.

Where do we go after passing the graduation day? Some say it’s the most valuable time of our life. Relaxing for a while from anykind of bussinesses, taking a short-term ‘holiday’, and whatever…it’s all our choice. Tapi buat saya, hanya ada satu kata: kerja. Tentu tak sekedar untuk mencari uang, tapi juga untuk aktualisasi diri.

Satu bulan setelah hari kelulusan, saya baru merasakan bagaimana susahnya mencari uang. Well, i have less time to spend, less time to read my favorite books, less time to SLEEP, less time to play and hanging out, even less time to type a short story for this blog! Kebetulan perusahaan tempat saya bekerja adalah perusahaan multinasional dengan tingkat pressure yang sangat tinggi, dan tentu dengan jam kerja yang ga saklek 8 jam tiap harinya (maksudnya, akan selalu dibutuhkan waktu tambahan untuk menyelesaikan pekerjaan sehari-hari). But I quite enjoy my job…after all I’ve learned some new things inside.

Bookmark and Share